“Di masa pandemi saat ini banyak orang kesusahan. Usahakan dapat berbagi dengan orang lain yang membutuhkan, atau minimal dengan menciptakan lapangan pekerjaan. Itu sudah sangat membantu agar ekonomi masyarakat tidak makin merosot.”
Ungkapan ini disampaikan Ikhwan Martias, Bendahara Asosiasi Peternak Puyuh Indonesia (APPI) saat diminta komentarnya mengenai bagaimana menghadapi kondisi pandemic covid-19 yang telah mengakibatkan banyak orang kehilangan pekerjaan.
Sebelumnya Menteri Tenaga Kerja Ida Fauziah menyebutkan bahwa jumlah pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat pandemi covid-19 mencapai lebih dari 3,5 juta orang. Kondisi tersebut bisa makin memburuk apabila makin banyak perusahaan yang kolaps atau mengalami penurunan usahanya.
Ikhwan Martias menjelaskan, usaha ternak puyuh dapat dijalankan dengan modal yang relatif kecil dan membutuhkan lahan yang tidak besar. Untuk populasi ternak 2.000 ekor misalnya, cukup menyiapkan kandang sekitar 30 m2.
Menurit Ikhwan, sejauh ini suplai telur puyuh masih sangat terbatas dibandingkan permintaan pasarnya karena populasi puyuh di Indonesia berdasar Data Statistik Peternakan Kementerian Pertanian pada 2019 hanya sekitar 14,1 juta ekor yang tersebar di seluruh Indonesia. Dengan kata lain, jumlah produksi telur puyuh per hari hanya sekitar 11 juta butir. “Sangat kecil bila dibandingkan jumlah penduduk yang mencapai lebih dari 265 juta jiwa,” ujarnya.
Berdasar pengalaman di peternakan yang dia kelola yaitu PT Sentosa puyuh Indonesia yang berlokasi di Tajurhalang, Kabupaten Bogor, permintaan pasar terhadap telur puyuh secara umum cukup tinggi. Terbukti produksi telur hari ini biasanya besoknya sudah terserap pasar dibeli oleh para pedagang yang mengambil ke peternakan dengan pembayaran cash.
“Hal lain yang menarik adalah puyuh ini usia 45 hari sudah mulai bertelur sehingga masa tunggu dari usia satu hari sampai menghasilkan telur itu tidak butuh waktu yang terlalu lama,” tambah Ikhwan.
Dari sisi kebutuhan pakan, menurut dia, seekor puyuh dewasa membutuhkan pakan sekitar 23-24 gram per hari. Namun bila pakan tersebut difermentasi terlebih dulu maka akan terjadi penghematan pakan 10-20% karena pakan yang sudah difermentasi akan meningkat kadar proteinnya sehingga konsumsi pakan puyuh menjadi lebih hemat.
Ditanya mengenai harga pokok produksi telur puyuh, menurut Ikhwan, berdasar pengalaman di peternakan PT Sentosa Puyuh Indonesia, biaya produksi satu butir telur puyuh sekitar Rp 200 / butir. Dan selama ini harga telur puyuh di kandang mencapai kisaran Rp 270 / butir, sedangkan eceran di pasar sekitar Rp 350 / butir. Jadi cukup bagus untuk dikerjakan oleh peternak atau petani sambal mereka melakukan pekerjaan yang lain.
“Paling penting adalah memilih bibit yang bagus dengan performance produktivitas yang sudah teruji. Puyuh yang bagus itu dalam satu siklus bisa menghasilkan 350 – 400 butir telur sampai usia sekitar 16 – 18 bulan,” tambahnya menguraikan.
Ikhwan menyarankan bagi yang ingin menjalankan usaha ternak puyuh agar sebelumnya mempelajari atau magang di peternakan puyuh yang sudah berjalan dengan baik sehingga mengetahui dan bisa mengantisipasi risiko-risiko usahanya. (DC002)

