No menu items!

Melawan Dampak Pandemi dengan Learning Agility

Must Read

Oleh Tommy Sudjarwadi (Partner – Dunamis Organization Service, Head of FranklinCovey Indonesia)

“The illiterate of the 21st century will not be those who cannot read and write, but those who cannot learn, unlearn, and relearn.” (Alvin Toffler – Futurist)

Kutipan Tuan Toffler  di atas pada saat dibuatnya dianggap ramalan. Saat ini khususnya di puncak Covid-19 adalah sebuah nasihat, tepatnya sebuah peringatan. Perusahaan-perusahaan besar berguguran dan dipaksa berubah total jika ingin berjaya kembali. Episentrum adaptasi perusahaan adalah sumberdaya manusianya. Dan jurus andalan yang direkomendasikan Toffler adalah : “learn, unlearn, dan relearn”

Dalam bukunya Learning Agility, David F.Hoff dan W.Warner Burke memberikan resep yang sistematis tentang keuletan belajar. Tentang learn, unlearn, dan relearn. Mereka mendefinisikan Learning Agility sebagai :“The ability to continually and rapidly learn, unlearn, and relearn mental models and practices from a variety of experiences, people, and sources, and to apply that learning in new and changing contexts to achieve desired results.

Dalam konteks penanganan Covid-19 saat ini pemerintah telah menunjukkan Learning Agilitynya. Khususnya dalam melakukan pembatasan ketat ketika terjadi liburan panjang, mengingat seringnya terjadi ledakan kasus paska liburan tersebut.    

Titik awal dari Learning Agility adalah Self Awareness. Kesadaran diri bahwa untuk beradaptasi terhadap situasi baru diperlukan kemampuan untuk mengenal diri sendiri yang ditandai dengan :

Kemampuan menakar kekuatan dan kelemahan diri sendiri ; menggunakan kekuatan diri secara optimal untuk merebut peluang yang ada, serta membuat kelemahan diri menjadi tidak relevan. Memilih pekerjaan atau profesi yang mengandung intersection besar antara tuntutan pekerjaan dan kekuatan diri kita. Tidak tergoda menekuni  profesi yang citranya kuat tetapi melahirkan prestasi kerja yang medioker karena tidak sejalan dengan potensi diri,

Kemampuan melakukan refleksi diri ; meluangkan waktu untuk berhenti sejenak dan menjawab “pertanyaan besar”. Apakah yang ingin saya capai 5 tahun dari sekarang? Kontribusi unik apa yang dapat saya sumbangkan : bagi profesi saya? perusahaan saya? bahkan negara saya? Apa yang perlu saya tingkatkan, hentikan dan lanjutkan? Untuk dengan mudah melakukannya diperlukan pertanda berikutnya :

Kemampuan dan kemauan meminta umpan-balik atas kinerja yang telah dihasilkan : aktif meminta pandangan pihak terkait atas ide, kinerja maupun solusi yang dihasilkan untuk langkah penyempurnaan terus menerus. Saat ini harapan dan standar kinerja meningkat terus. Apa yang dianggap sudah baik, cepat, dan murah hari ini bisa dianggap “biasa saja” dalam hitungan bulan.

Ketiga kemampuan di atas perlu diasah dengan cepat dan sederhana agar sumberdaya manusia di perusahaan dapat mudah beradaptasi dengan perubahan. Menjauh dari respon-respon negatif yang menambah beban perusahaan dalam membendung dampak buruk pandemi. (TS)

Latest News

BSMR Gelar Jakarta Risk Management Convention 2026: Siapkan Ketahanan Industri Perbankan Hadapi Era AI, Bullion Banking dan Ancaman Siber

Jakarta, 10 Agustus 2026 – Ketidakpastian ekonomi global yang belum mereda memaksa industri perbankan memasuki fase baru pengelolaan risiko....

More Articles Like This