Pasar digital yang tumbuh meroket membuat PT Telkom Indonesia (Persero) atau Telkom ubah strategi bisnis. BUMN ini memilih melakukan transformasi sebagai perusahaan telekomunikasi digital dari sebelumnya yang hanya perusahaan telekomunikasi.
“Mengapa kami dan juga banyak perusahaan lain menuju atau bertransformasi ke arah digital, salah satu yang mendorong adalah kita melihat potensi pasar yang besar,” ujar Direktur Digital Business Telkom Muhammad Fajrin Rasyid saat webinar Indonesia Young Business Leaders Award 2021 di Jakarta, Kamis (18/2/2021).
Fajrin mengatakan transformasi Telkom tak lepas dari pesatnya perkembangan dunia digital saat ini. Fajrin menilai transformasi menjadi upaya Telkom dalam meraih lebih banyak potensi yang ada pada pasar digital saat ini.
Mantan bos Bukalapak itu memprediksi ekonomi digital Indonesia mencapai 44 miliar dolar AS pada 2020. Dia menyebut pertumbuhan ekonomi digital terus melonjak dalam lima tahun ke depan hingga 124 milliar dolar AS.
“Jadi dalam lima tahun saja ada pertumbuhan tiga kali lipat,” ucap Fajrin.
Untuk itulah dia ingin Telkom sebagai perusahaan milik negara menjadi yang terdepan dalam mengambil manfaat dari pertumbuhan dari pasar digital. Fajrin menilai Indonesia tidak hanya berperan sebagai pasar, melainkan menjadi elemen yang aktif terlibat di dalamnya.
Fajrin mengatakan akselerasi pertumbuhan ekonomi digital juga terjadi akibat adanya pandemi covid-19. Berdasarkan data Kementerian Koordinator bidang Perekonomian, ucap Fajrin, pertumbuhan transaksi e-commerce meningkat 400 persen selama pandemi. Fajrin menilai pandemi membuat banyak perusahaan mempercepat peralihan layanan bisnis ke digital.
“Yang menarik ada 37 persen itu orang yang sebelumnya belum pernah belanja daring menjadi konsumen baru yang karena pandemi ini terpaksa ke daring,” ungkap Fajrin.
Lulusan ITB itu mengatakan transformasi digital tak hanya sekadar pemanfaatan teknologi, melainkan juga peningkatan kesadaran sumber daya manusia dan konsumen. Perusahaan, lanjut Fajrin, juga harus menerapkan standar operasional produser (SOP) berbasis digital dalam upaya percepatan digitalisasi.
“Percuma kalau kita mencoba menerapkan digital signature tapi misalkan SOP di perusahaan kita masih menerapkan tanda tangan manual,” kata Fajrin.(DM04)

