No menu items!

Sebagian Diekspor, IBC Ditargetkan Bisa Produksi Baterai Hingga 140 GWh

Must Read

Ini target yang dibebankan pada Indonesia Battery Corporation (IBC) pada tahun 2030. Wakil Menteri I BUMN Pahala Mansury berharap total kapasitas baterai yang dihasilkan holding BUMN baterai mencapai 140 GwH. Sebagian diekspor.

“Bagaimana total kapasitasnya? Indonesia ingin memiliki suatu hari nanti total kapasitas baterai yang dihasilkan sekitar 140 GWh pada tahun 2030,” ujar Pahala dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat

Sekitar 50 GWh dari produksi tersebut, menurut Pahala, akan diekspor. Sedangkan sisanya diharapkan bisa digunakan di industri baterai yang nanti akan digunakan memproduksi kendaraan listrik yang ada di Indonesia.

Menurut Pahala, pada tahap pertama yang akan pihaknya coba lihat adalah bagaimana memproduksi antara 10 sampai dengan 30 GWh untuk memproduksi baterainya

Seiring perkembangan nantinya tentu dengan jumlah mitra yang dimiliki dan makin banyak yang bisa diproduksi secara domestik dari masing-masing bagian diharapkan total kapasitas baterai yang diproduksi oleh IBC bisa terus ditingkatkan.

Wamen BUMN itu mengungkapkan hal yang ingin dilakukan melalui pembentukan IBC ini adalah bagaimana Indonesia bisa memiliki sebuah industri baterai yang terintegrasi.

Indonesia bukan hanya membangun satu pabrik saja, tetapi bagaimana Indonesia memiliki mulai dari sektor hilirnya yakni tambangnya sampai dengan smelter nikel, kemudian memproduksi precursor-nya hingga battery cell, bahkan kita ingin memiliki juga energy storage, stabiliser, ataupun juga recycling daripada industrinya.

Dengan demikian investasi yang dibutuhkan sangat besar bisa mencapai 17 miliar dolar AS, dan memang profil daripada IBC ini nantinya aka dimiliki dengan total komposisi saham yang sama antara Antam, MIND ID, Pertamina, dan PLN.

Tujuan utamanya supaya kekuatan yang Indonesia miliki di hulu dan hilir terkait industri baterai kendaraan listrik bisa disatukan. Maka dari itu keempat BUMN tersebut bersatu membentuk sebuah industri IBC yang nanti masing-masing bagian daripada rantai pasok industri baterai ini akan memiliki joint venture.

Pahala menilai potensi daripada kendaraan listrik di Indonesia sangat besar, di mana terdapat kendaraan roda dua dan roda empat. Untuk motor saat ini diperkirakan diproduksi sekitar 10 juta unit sedangkan untuk mobilnya atau kendaraan roda empat di atas 4 juta unit pada tahun 2030.

“Bagaimana nanti dari total mining nanti yang akan memproduksi nikel ore, lemonite dan sebagainya yang dihasilkan paling tidak 70 persen keinginan kita betul-betul nanti bisa diproduksi di Indonesia hingga menjadi battery cell dengan total kapasitas 140 GwH,” kata Pahala.(DM03)

Latest News

BSMR Gelar Jakarta Risk Management Convention 2026: Siapkan Ketahanan Industri Perbankan Hadapi Era AI, Bullion Banking dan Ancaman Siber

Jakarta, 10 Agustus 2026 – Ketidakpastian ekonomi global yang belum mereda memaksa industri perbankan memasuki fase baru pengelolaan risiko....

More Articles Like This