JAKARTA (DATACORE.ID)—Setelah berusia lima tahun PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk. (BRIS) resmi menjadi badan usaha milik negara (BUMN), sejajar dengan bank himpunan bank milik negara lainnya (Himbara). Tahun 2030 ditargetkan jadi Top 5 Global Islamic Bank.
“Mari kita memantaskan diri, karena institusi kita sudah sejajar dengan Himbara yang lainnya rumah kita sudah sejajar dengan Himbara yang lainnya,” ujar Direktur Utama BSI, Anggoro Eko Cahyo dalam inspirational speech saat Milad BSI ke-5 di Jakarta, Senin (2/2/2026).
Sebagai bank syariah terbesar RI ini bukan lagi anak usaha dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI), dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) namun sudah sejajar dengan bank Himbara lainnya.
Menurutnya, saat BSI menjadi BUMN, ekspektasi dari pemegang saham dari masyarakat tentunya juga menjadi besar. Lantas, kinerja bank itu harus lebih baik. Bahkan dituntut mampu bersaing dengan mantan induk usahanya.
Seperti diketahui, BSI resmi menyandang status persero usai diputuskan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Senin (22/12/2025). Dalam mata acara pertama, para pemegang saham sepakat untuk merubah anggaran dasar BSI.
Berdasarkan ketentuan UU BUMN, yakni adanya hak-hak istimewa Negara Republik Indonesia dalam kepemilikan Saham Seri A Dwiwarna di BSI, menyebabkan status bank itu terkategori sebagai BUMN.
Sesuai pasal 94 UU BUMN, Perseroan wajib menyesuaikan dengan ketentuan UU BUMN. Di antaranya, penyesuaian nama bank syariah itu menjadi PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk. Dengan begitu, BSI kini menjadi bank anggota himpunan bank milik negara (Himbara) kelima.
“BSI telah menapaki lima tahun sebagai milestone pertama dengan sangat baik, dan sekarang siap untuk milestone selanjutnya,” kata Anggoro Eko Cahyo.
Sebagai bank yang baru lahir sebagai hasil merger dari tiga bank syariah pada 2021, BSI terus mencatatkan kinerja yang solid.
Sejak awal merger, BSI fokus menjalankan fungsi intermediasi di mana mayoritas pembiayaan disalurkan pada pada bisnis ritel dan konsumer terutama di ekosistem halal.
Kondisi tersebut, catat perseroan, membawa dampak terhadap kinerja yang cukup solid hingga tutup buku tahun 2025.
Menurut perseroan, sekitar 90 persen penyaluran pembiayaan BSI didistribusikan kepada segmen ritel, konsumer UMKM dan komersial skala kecil dengan lingkup ekosistem pendidikan dan lembaga kesehatan. Pembiayaan tersebut diberikan pegawai, pengusaha mikro, kecil dan menengah serta ekosistem BUMN.(ris/dsb)

