No menu items!

Salut, Begini Strategi Ilham Habibie dan Regio Aviasi Menerbangkan R80 Pada 2025

Must Read

Ilham Habibie dan PT Regio Aviasi Industri (RAI) terus mengatur strategi untuk mewujudkan pesawat turboprop generasi terbaru R80. Meski dihapus dari daftar Proyek Strategis Nasional (PSN), tak membuat mereka menghentikan rencana menerbangkan pesawat besutan Prof Habibie pada 2025.

“Insyaallah tahun 2024-2025 selesai. Memang lama,” kata Ilham Habibie yang juga Komisaris Utama PT RAI beberapa waktu lalu.

Terjangan pandemi Covid-19 memang membuat beberapa rencana kerja pengembangan R80 mengalami mundur dari rencana. Seperti diungkapkan Justin Djogo, Humas PT Regio Aviasi Industri (RAI) fase full scale development baru akan dimulai pada akhir 2021.

Selanjutnya fase prototype production pada 2023, first flight pada akhir 2025, adapun sertifikasi direncanakan pada 2028. Semua ini merupakan kelanjutan fase konseptual yang sepenuhnya dibiayai secara pribadi oleh BJ Habibie.

“Kita sudah menyelesaikan di fase konseptual. Dengan uangnya Pak Habibie,” ujarnya Dirut RAI Agung Nugroho.

Fase konseptual, menurut Agung bukan sekadar coret-coret selembar dua lembar kertas. Tapi konsep menyeluruh, mulai dari desain, program, multiplier effect desainnya, kerjasama bisnis dalam luar negeri sampai mendatangkan investor.

Meski tak lagi berstatus PSN, RAI mencatat, sudah merasakan sejumlah dukungan pemerintah dalam fase konseptual program R80. Bappenas/ PINA (Pembiayaan Investasi Non APBN) memberikan dukungan untuk memfasilitasi kepada calon investor.

Hanya saja, Agung mengaku tetap butuh dukungan pemerintah untuk kelanjutan proyek ini ke depannya. Apalagi, menurutnya negara juga punya kepentingan terkait keberlangsungan proyek ini. Pengembangan pesawat komersial memiliki revenue yang besar bagi perekonomian Indonesia.

Untuk itulah pada September 2020, RAI menggandeng Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menandatangani kesepakatan kerjasama. Kerjasama akan dimulai dengan keterlibatan LAPAN dalam proses pengembangan rancang bangun pesawat terbang R80, sesuai dengan kemampuan yang ada di Lapan sebagai pusat riset dirgantara nasional.

“LAPAN akan membantu pada dukungan komputasi dinamika fluida, simulasi stabilitas & pengendalian pesawat terbang, perhitungan prestasi terbang dan pada saatnya, pengujian pesawat terbang yang terkait dengan sertifikasi pesawat, seperti bird impact test dll,” ujar Justin. Namun dia menambahkan nantinya tidak terbatas pada itu saja.

Setelah keluar dari PSN, PT RAI saat ini sedang berupaya mendapatkan dukungan dari pemerintah dalam bentuk dimasukkannya program pesawat R80 dalam daftar Prioritas Riset dan Inovasi Nasional di bawah Kemenristek/BRIN. Kerja sama dengan LAPAN adalah bukti dukungan tersebut.

Apalagi, seperti diungkapkan Ilham Habibie, para calon pembeli R80 sudah antri. Pesawat yang diklaim lebih unggul dari ATR ini sudah dipesan sebanyak 155 unit.

“155 unit tersebut akan dibeli oleh empat maskapai penerbangan dalam negeri,” kata Ilham Habibie.

Menurut dia, pemesanan lebih banyak dilakukan oleh maskapai dalam negeri karena pesawat tersebut cocok untuk lintasan di Indonesia yang lebih banyak jarak pendek.

“Pesawat tersebut juga bisa mendarat dengan lintasan yang tidak terlalu panjang,” katanya.

Meski potensi pasar di Indonesia cukup tinggi, dikatakannya, tidak menutup kemungkinan pesawat R80 akan dijual ke luar negeri, terutama di negara-negara kepulauan seperti Indonesia.

“Di antaranya ke Filipina, Vietnam, dan Thailand. Selain Asia juga di Afrika, Amerika Latin, dan Australia. Mereka butuh pesawat seperti itu, yang pakai baling-baling,” katanya.

Ia mengatakan tidak banyak negara yang bisa membuat pesawat sejenis R80. Menurut dia, hanya ada 20 dari 200 negara yang bisa membuat pesawat tersebut secara utuh, salah satunya Indonesia.

RAI juga telah menandatangani MoU dengan dua perusahaan Italia, yakni LEONARDO Aerostructure Division dan LAER, dalam pembuatan dan pengembangan pesawat R80 pada 22 Februari 2018. Sesuai kesepakatan selepas MoU para pihak beranjak ke fase pembuatan enam unit prototipe dari R80.

Dari enam purwarupa yang akan dibuat, empat di antaranya akan digunakan untuk uji terbang dan dua sisanya untuk uji kekuatan struktur. Uji coba perdana akan dilakukan pada 2022 mendatang. Namun pembuatan purwarupa yang menggunakan fasilitas bandara Kertajati, Sumedang inilah yang mundur dari jadwal.

Untuk pengembangan pesawat berpenumpang 80-90 kursi dan berkecepatan 290-330 knots dan ketinggian terbang 17.500-25.000 kaki ini dibutuhkan dana sekitar Rp 20 Triliun. Adapun harga jualnya dipatok pada kisaran Rp 240 milliar sampai dengan Rp 300 miliar.(DC04)

Latest News

BSMR Gelar Jakarta Risk Management Convention 2026: Siapkan Ketahanan Industri Perbankan Hadapi Era AI, Bullion Banking dan Ancaman Siber

Jakarta, 10 Agustus 2026 – Ketidakpastian ekonomi global yang belum mereda memaksa industri perbankan memasuki fase baru pengelolaan risiko....

More Articles Like This