No menu items!

Tuntaskan Restrukturisasi, Krakatau Steel Pilih Jalan Progresif-Kolaboratif

Must Read

Pil pahit program restrukturisasi harus ditelan PT Krakatau Steel Tbk (KRAS). Namun, setelah melawan demam dan rasa sakit lainnya hampir selama dua tahun, hasilnya mulai dirasakan. Restrukturisasi dan transformasi itu membawa KS kembali mencetak laba, mengekspor produk baja serta beroperasi dengan efisien.

“Transformasi dan restrukturisasi Krakatau Steel yang dilakukan di segala lini hingga ke seluruh anak perusahaan telah menunjukkan hasil yang baik,” kata Direktur Utama Krakatau Steel, Silmy Karim di Jakarta, Senin (30/11/2020).

Silmy Karim, Direktur Utama PT Krakatau Steel Tbk

Silmy Karim adalah ‘dokter’ yang memberikan resep pil pahit restrukturisasi. Saat ditunjuk dan memulai sebagai nahkoda KRAS 6 September 2018, kondisi perusahaan pelat merah produsen baja ini tengah didera tumpukan masalah pelik dan ruwet.

Selain menghadapi banjir impor produk baja, KRAS mengalami inefisiensi akut, beban operasional 11 anak usaha dan 60 cucu usaha, terlilit hutang 2,5 miliar USD dan sejak 2011 mengalami kerugian. Selain itu juga berkelindan dengan peristiwa salah satu pimpinan perusahaan ini berurusan dengan KPK.

Optimisme dan energi positif Silmy Karim menjadikan langkah restrukturisasi dan transformasi KRAS berjalan dalam jalur yang tepat. Puncaknya adalah KRAS telah menyelesaikan restrukturisasi hutang senilai 2 miliar USD atau sekitar Rp 30 triliun.

Restrukturisasi hutang ini adalah restrukturisasi salah satu hutang terbesar yang pernah ada di Indonesia. Kesepakatan restrukturisasi ini telah selesai ditandatangani oleh keseluruhan kreditur pada 12 Januari 2020. Restrukturisasi hutang ini melibatkan 10 bank nasional, swasta nasional dan swasta asing.

Terjangan pandemi Covid-19 justru dijadikan momentum untuk bangkit. Hasilnya, KRAS berhasil meraih laba bersih sebesar US$ 74,1 juta atau setara dengan Rp 1,08 triliun pada triwulan pertama tahun 2020. Pencapaian laba yang diraih oleh Krakatau Steel merupakan catatan sejarah tersendiri setelah tidak mencatatkan laba pada delapan tahun terakhir.

Prestasi KRAS itu sejalan dengan harapan Menteri BUMN Erick Thohir. Saat usai menuntaskan hutang Menteri Erick memang menginginkan KRAS menjalankan operasional dengan benar. “Kalau habis restrukturisasi maka operasionalnya harus benar. Itu yang saya ingin pastikan kita kawal,” ujar Menteri Erick Thohir.

Bagi Silmy Karim menjalankan operasi KRAS di jalan yang benar tak bisa ditawar. Oleh sebab itu realisasi kebijakan investasi pemerintah dalam program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) senilai Rp 3 triliun dengan cara penerbitan obligasi wajib konversi yang sudah mendapat persetujuan pemegang saham pada Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa sungguh amat membantu operasi KRAS.

Kebijakan investasi Pemerintah tersebut, menurut Silmy, akan memberikan fleksibilitas kepada KRAS membantu konsumen industri hilir dan industri pengguna melalui perpanjangan siklus pembayaran serta pembelian bahan baku sehingga dapat memulihkan pasar dan industri baja. Apalagi pasar baja domestik telah menunjukkan tanda perbaikan positif.

“Hingga saat ini pasar baja sudah recovery sebesar 80 persen. Hal ini memberikan keyakinan bahwa ke depannya di Kuartal II tahun 2021 pasar baja domestik akan kembali pulih seperti sebelum masa pandemi,” kata Silmy.

Perbaikan ini juga ditandai dengan kenaikan harga baja internasional. Menurut World Steel Dynamics 23 Oktober 2020, harga baja internasional untuk produk Hot Rolled Coil (HRC) di Kuartal IV 2020 mengalami peningkatan 27,1 persen dibandingkan dengan harga di kuartal II 2020. Semua ini membuat Silmy makin optimistis.

Mengapa Restrukturisasi?

Saat memasuki KRAS, pilihan Silmy hanya satu yaitu restrukturisasi. Pasalnya penyakit dalam tubuh Krakatau Steel (KS) sudah kronis dan akut. Restrukturisasi tidak bisa ditawar-tawar lagi demi menyehatkan kinerja keuangan perseroan yang memiliki utang menggunung dan terus menderita kerugian dalam tujuh tahun terakhir.

“Restrukturisasi itu wajib, tidak bisa dihindari. Selama tujuh tahun berturut-turut kan KS rugi, kita terlambat melakukan restrukturisasi. Ini memang pahit, harus dilaksanakan dan kita harus berani untuk mengambil keputusan yang tidak populis. Kalau kita tidak lakukan ini, jangankan 30%, 100% kapal KS ini akan karam,” ujar Silmy Karim pada Senin (1/7/2019)

Program restrukturisasi yang meliputi utang, bisnis, dan organisasi, untuk meningkatkan daya saing perusahaan agar lebih kompetitif secara global. Bagi Silmy dalam menjalankan restrukturisasi, salah satunya perampingan organisasi, perusahaan telah melibatkan anak-anak usaha KS Group.

Restrukturisasi ini bertujuan agar Krakatau Steel lebih efisien dan kompetitif di tengah persaingan industri baja global yang sangat kompetitif. Langkah-langkah yang dilakukan adalah penjualan aset-aset noninti, perampingan organisasi, mencari mitra bisnis strategis dan spin-off.

Selain itu juga melakukan pelepasan unit kerja yang semula bersifat cost center yang hanya melayani induk perusahaan (KS), menjadi bagian dari pengembangan bisnis anak perusahaan. Ini bertujuan agar menjadi bersifat profit center. Program ini disebut juga cost to profit center.

Program ini akan membuat unit-unit kerja di internal Krakatau Steel akan lebih optimal sehingga mampu menjalankan bisnis secara efisien dan lebih produktif. Sementara anak perusahaan yang mendapat tambahan karyawan dari KS akan dapat mengembangkan bisnisnya untuk mendapatkan pasar dan pendapatan baru dari luar KS Group.

“Saya mengajak seluruh anak usaha KS untuk bersama-sama menyelamatkan bisnis baja KS karena untuk menyelesaikan permasalahan tersebut perlu mengedepankan semangat gotong-royong dan kebersamaan semua pihak,” ujar Silmy.

Ia menyadari terkait program restrukturisasi dan transformasi perusahaan ini tidak akan bisa menyenangkan semua pihak. Akan tetapi, manajemen menjamin program ini dilakukan sesuai dengan aturan perundangan.

“Jadi tidak benar ada PHK massal kepada karyawan Krakatau Steel. Restrukturisasi organisasi tidak selalu identik dengan pemutusan hubungan kerja, ada banyak cara dalam perampingan struktur organisasi,” ungkap Silmy.

Manajemen terus mengupayakan komunikasi yang harmonis dengan stakeholder terkait, khususnya serikat dan karyawan, pemerintah baik pusat maupun daerah, Kementerian BUMN, dan pihak-pihak lain yang terkait dalam menjalankan program restrukturisasi ini.

“Ada beragam upaya yang dilakukan oleh Krakatau Steel untuk memperbaiki kinerjanya, dan dua hal yang menjadi kuncinya adalah restrukturisasi dan transformasi,” tuturnya.

Silmy mengatakan, salah satu bentuk transformasi yang dilakukan oleh KRAS adalah dengan melakukan efisiensi di berbagai sisi. Salah satunya dengan melakukan penurunan biaya operasi induk ke angka 31 persen menjadi US$ 46,8 juta.

Beragam upaya efisiensi yang dilakukan oleh KRAS akhirnya membuahkan hasil yang manis. Tercatat, perusahaan ini berhasil melakukan penghematan biaya sebesar US$ 130 juta, hingga akhirnya meraih untung sebesar US$ 74,1 juta atau setara dengan Rp 1,08 triliun pada triwulan pertama 2020.

Laba ini, menurutnya, merupakan hasil kerja keras dan perubahan besar-besaran. “Saat saya masuk hutangnya besar sekali. Sekitar US$ 2,5 miliar, di mana 2,2 miliarnya kita bisa restrukturisasi pada Januari 2020,” ucap Silmy.

Selain itu, terdapat tantangan besar di internal sendiri karena ada sarana dan prasarana dan sumber daya manusia (SDM) yang tidak efisien. “Lalu ada optimaliasi organisasi. Nah, ini kita kurangi hampir 60 persen struktur organisasi,” katanya.

Mengenai SDM, Silmy mendorong optimalisasi kerja, namun tidak melakukan sembarang pemutusan hubungan kerja. “Kalau tidak bisa mengurangi orangnya maka harus besarkan bisnisnya. Jadi, mengurangi itu bukan hanya memberi nilai tambah untuk perusahaan tapi juga untuk karyawan. Yang muda-muda kita masukan untuk mempercepat, tapi yang senior-senior kita muliakan juga,” tuturnya.

Keberhasilan KRAS tak bisa dilepaskan dari kontribusi Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Wakil Menteri BUMN, Budi Gunadi Sadikin mengatakan, di masa pandemi ini peran pemerintah begitu krusial, salah satunya dengan menurunkan bahan baku energi untuk KRAS.

“Tapi saya selalu bilang kepada Krakatau Steel, harga tidak selalu bisa dikontrol. Pasti akan bergerak terus dan suatu saat kontrol itu akan ditarik saat pandemi berakhir. Makanya yang harus dilakukan Krakatau Steel adalah produktivitas dan efisiensi terus menerus,” ujar Budi.

KRAS memang diharapkan untuk terus melakukan efisiensi agar bisa meningkatkan produktivitas. Maka, menurut Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kementerian Perindustrian, Taufik Bawazier, ke depan negara harus selalu hadir karena baja adalah industri prioritas.

Sejalan dengan tuntasnya restrukturisasi dan transformasi, KRAS meluncurkan logo baru setelah 50 tahun menggunakan logo berbentuk ladle (wadah peleburan besi dalam proses produksi baja) warna merah. Logo baru Krakatau Steel mengusung warna biru untuk logo berbentuk K yang terdiri dari tiga komponen yang memiliki makna Progressive, Collaborative, dan Robust (PCR).

Pilihan jalan Progressive memiliki makna sebagai perusahaan inovatif, bergerak beriringan dengan industri, serta mampu menghadapi segala tantangan dan memanfaatkan peluang yang ada dengan sebaik-baiknya. Aplikasi nilai Progressive adalah program hilirisasi produk baja sebaga strategi meningkatkan nilai tambah produk dan mengoptimalkan utilisasi industri baja dalam negeri.

Perseroan memanfaatkan pabrik-pabrik milik mitra yang didukung oleh bahan baku yang diproduksi oleh Krakatau Steel. Hal itu merupakan terobosan baru untuk meminimalkan biaya investasi, perluasan varian produk serta mendorong percepatan pemulihan ekonomi Indonesia.

Selanjutnya, dalam mengusung nilai Collaborative, Krakatau Steel memegang teguh komitmen sebagai rekan dan mitra terpercaya yang menumbuhkembangkan potensi satu sama lain. Dengan teknologi dan digitalisasi, kolaborasi menjadi semakin mudah dan dampak yang dapat dicapai bisa lebih besar.

Robust memiliki makna kuat dan kokoh. Dengan semangatnya yang baru, BUMN itu berharap dapat menyokong pembangunan infrastruktur serta menjadi perusahaan mumpuni yang mampu mendukung industri nasional.

Dengan ketiga nilai tersebut, semangat baru terlahir kembali untuk kebangkitan dan kejayaan Krakatau Steel. Semangat baru tersebut dihadirkan dalam visual baru dengan nilai Integrity, Profesionalisme, Teamwork, dan Competitiveness. Hal ini diharapkan dapat memperkuat internal serta meningkatkan kinerja Krakatau Steel.

“Kami semua berharap Krakatau Steel dapat terus menjadi role model bagi seluruh pelaku industri baja nasional. Berkontribusi untuk bangsa dan negara, memajukan industri, pemenuhan kebutuhan baja untuk pembangunan infrastruktur, serta pemulihan ekonomi Indonesia pascapandemi COVID-19,” tutup Silmy.

Mengusung tagline baru Explore to Empower, perusahaan bertekad memajukan Indonesia dengan menjadi perusahaan terpercaya dan kredibel.

Krakatau Steel memberikan dorongan kekuatan agar dapat membangun kemandirian industri nasional, menciptakan kemakmuran masyarakat, serta menjadi tuan rumah di negeri sendiri baik untuk saat ini maupun di masa yang akan datang.(DC04)

Latest News

BSMR Gelar Jakarta Risk Management Convention 2026: Siapkan Ketahanan Industri Perbankan Hadapi Era AI, Bullion Banking dan Ancaman Siber

Jakarta, 10 Agustus 2026 – Ketidakpastian ekonomi global yang belum mereda memaksa industri perbankan memasuki fase baru pengelolaan risiko....

More Articles Like This