Oleh : Edy Aruman
Tahun 1992, Amerika Serikat sedang terluka. Resesi ekonomi menghantam keras. Pengangguran meningkat, rumah-rumah disita, dan banyak keluarga hidup dalam ketidakpastian. Rakyat tidak hanya kehilangan pendapatan, tetapi juga rasa aman dan harga diri.
Kebetulan, tahun 1992 adalah tahun pemilihan presiden AS. Dan dalam setiap kampanye, ada debat presiden.
Dalam suasana seperti itu, debat presiden bukan sekadar ajang adu kebijakan. Ia berubah menjadi panggung ujian kepemimpinan. Rakyat ingin menguji, siapa yang benar-benar memahami penderitaan mereka.
Peter D. Andrei, dalam Leadership: How Legendary Leaders Speak, menjadikan satu momen dalam debat itu sebagai contoh utama langkah pertama dalam The Communication of Leadership. Siapa yang mengendalikan perhatian melalui empati (control attention: portray empathy).
Momen itu dimulai ketika seorang wanita berbaju merah berdiri dan mengajukan pertanyaan yang tampak sederhana, tetapi sebenarnya sangat mendalam:
“Secara pribadi, bagaimana utang nasional mempengaruhi kehidupan Anda masing-masing? Jika belum, bagaimana Anda bisa jujur menemukan obat untuk masalah ekonomi rakyat biasa jika Anda tidak memiliki pengalaman tentang apa yang menyakitkan bagi mereka?”
Pertanyaannya terdengar teknis, seolah berbicara tentang angka dan kebijakan fiskal. Namun di balik kata-kata itu tersembunyi makna yang jauh lebih dalam: Siapa di antara kalian yang benar-benar punya empati? Siapa yang mengerti rasa sakit kami?
George H.W. Bush menjawab terlebih dahulu. Ia berbicara tentang suku bunga dan dampak umum utang nasional.
Ketika didesak, ia berkata, “Well, I’m sure it has… I love my grandchildren…” dan kemudian balik bertanya dengan nada defensif, “Are you suggesting that if somebody has means, that the national debt doesn’t affect them?”
Ia bahkan mengakui kebingungannya, “I’m not sure I get it, help me with the question and I’ll try to answer.”
Jawabannya tidak sepenuhnya salah. Namun ia terjebak pada kata “utang nasional” secara literal. Ia membahas kebijakan, sementara yang ditanyakan adalah pengalaman pribadi.
Ia berdiri kaku di belakang podium. Ia bahkan sempat melirik jam tangannya—sebuah gestur kecil yang ditafsirkan banyak orang sebagai tanda ketidaksabaran.
Ekspresinya menunjukkan kebingungan, bukan keterhubungan. Dalam momen yang menuntut empati, ia tampak jauh dari rasa sakit yang dirasakan rakyat.
Ketika giliran Bill Clinton berbicara, atmosfer berubah. Ia tidak langsung berargumentasi. Ia mendekat. Ia menatap wanita itu. Ia memulai dengan pertanyaan yang sederhana tetapi penuh perhatian:
“Tell me how it’s affected you again?”
Ia melanjutkan, “You know people who’ve lost their jobs?”
Wanita itu menjawab, “Well yeah.”
“And lost their homes?”
“Mhm.”
Setiap pertanyaan membangun jembatan. Clinton tidak sedang menyampaikan data; ia sedang membangun hubungan. Ia menunjukkan bahwa ia mendengar, dan lebih dari itu, ia ingin mengerti.
Kemudian ia berkata, “Well, I’ve been governor of a small state for 12 years. I’ll tell you how it’s affected me personally… When people lose their jobs in my state, there’s a good chance I’ll know them by their names. When a factory closes, I know the people who ran it.”
Di titik ini, percakapan berubah dari kebijakan menjadi manusia. Clinton tidak menyangkal bahwa ia presiden atau gubernur. Ia tidak berpura-pura miskin. Ia justru mengatakan bahwa kedekatannya dengan rakyat membuat penderitaan mereka menjadi nyata baginya.
Wajahnya menunjukkan keseriusan dan rasa sakit yang dibagikan. Bukan kebingungan, melainkan empati.
Namun Clinton tidak berhenti pada rasa. Setelah membangun koneksi emosional, ia menunjukkan otoritas. Ia mengubah cara masalah itu dipahami. Ia mengatakan bahwa persoalannya bukan semata-mata utang nasional.
“It is because America has not invested in its people… it is because we’ve had twelve years of trickle-down economics… It is because we are in the grip of a failed economic theory.”
Dengan kalimat-kalimat itu, ia tidak sekadar menawarkan solusi. Ia mendiagnosis ulang masalahnya. Ia memindahkan fokus dari angka ke manusia, dari gejala ke akar penyebab.
Inilah yang membuat jawabannya terasa kuat.
Ia tidak hanya berkata, “Saya peduli.” Ia juga berkata, “Saya mengerti apa yang sebenarnya terjadi, dan saya tahu apa yang harus dilakukan.”
Andrei menekankan bahwa kepemimpinan yang efektif lahir dari perpaduan dua hal: empati terhadap masalah dan otoritas dalam menawarkan solusi. Clinton menunjukkan keduanya dalam satu jawaban yang relatif singkat. Ia membuat wanita berbaju merah itu—dan jutaan penonton di rumah—merasa dipahami. Lalu ia memberi mereka arah.
Perbedaan antara dua respons itu terasa kontras. Yang satu berbicara tentang sistem. Yang lain berbicara tentang manusia. Yang satu terdengar defensif. Yang lain terdengar hadir.
Clinton memang memenangkan pemilihan itu dengan selisih besar, enam juta suara. Namun yang lebih diingat orang adalah momen tersebut. Sebuah pengingat bahwa dalam krisis, empati bisa sama pentingnya dengan kecerdasan kebijakan.(*)
DAFTAR PUSTAKA
Andrei, P. D. (2021). Leadership: How legendary leaders speak: 451 proven communication strategies of the world’s top leaders. Speak for Success Collection.

