No menu items!

Merdeka Untuk Berdaulat, Erick Thohir Menteri Out of The Box

Must Read

Oleh : Irma Suryani Chaniago

Sejak dipilih Pak Jokowi menjadi Menteri BUMN, Erick Thohir selalu dihadapkan dengan tantangan-tantangan berat, mulai dari fitnah, tudingan, hoaks dan lain-lain. Situasi ini mengingatkan saya kepada pernyataan Ganjar Pranowo di acara ILC beberapa tahun lalu
“Erick Thohir menabrak tembok-tembok besar yang sistemnya sudah karatan”

Jadi tidak mengherankan kalau hari ini, banyak fitnah dan tudingan kepadanya, ini karena keberaniannya menabrak tembok-tembok besar untuk membenahi BUMN.

Membenahi tembok tembok besar yang sudah karatan dengan pimpinan-pimpinannya yang juga banyak karatan, tentu tidak seperti membalikkan telapak tangan

Membenahi BUMN yang pimpinan-pimpinannya juga ada yang karatan tersebut dibutuhkan keberanian, dari mulai membenahi “ AHLAK” yang kemudian dijadikan nya sebagai tagline BUMN.

Membenahi Sumber Daya Manusia ( dari Direksi sampai pada Komisaris) serta membersihkan BUMN dari tikus-tikus kantor yang menjarah uang negara dengan melaporkan mereka ke aparat yang berwenang. Tindakan yang terakhir ini belum pernah terjadi di indonesia, dimana seorang Menteri melaporkan bawahan dibawah wewenang nya ke pihak yang berwajib ! Bravo Erick .

Tindakan out of the box yang Menteri Erick lakukan mirip dengan tindakan guru politik beliau yaitu Presiden Republik Indonesia Ir. Jokowidodo.

Dan saya yakin karena chemistry dan ketulusan sikap dalam menjalankan perintah presiden inilah yang kemudian membuat beliau banyak dipercaya untuk menyelesaikan tugas-tugas penting dengan jabatan-jabatan penting yang penuh tantangan. Tentu, sudah pasti akan mendapatkan banyak hambatan dari oknum – oknum yang merasa kenyamanannya terganggu.

Ibarat pepatah, “biarkan anjing menggonggong kafilah tetap berlalu”, Erick Thohir tidak bergeming dari fitnah yang menyatakan perusahaan beliau terafiliasi dengan perusahaan yang mengelola 2,5 persen penyediaan PCR. Erick yang setelah menjadi menteri melepaskan semua posisi bisnisnya dituding bermain dalam penyediaan PCR.

Mari secara jernih kita bicara by data tentang data PT GSI dan berapa PCR yang mereka kelola untuk kepentingan kondisi darurat pendemi COVID-19. Total jumlah test PCR yang sudah dilaksanakan di Indonesia 28.4 juta. Sedangkan total jumlah test PCR yang dilakukan oleh GSI 700 ribu. Ini artinya PT. GSI hanya mengelola 2.5 persen dari total test PCR.

Nah Menurut pendapat saya, kalau mau bermain, harusnya PT GSI menguasai pasar sampai 50 persen bukan 2.5 persen.

Dan mari kita periksa lagi, Yayasan kemanusiaan Adaro hanya punya saham 6 persen di PT. GSI. Artinya keterlibatan yayasan kemanusiaan Adaro ini sangat kecil dan ini juga membuktikan bahwa Yayasan kemanusiaan Adaro tidak bermain-main di bisnis PCR dan murni hanya untuk membantu kemanusiaan di era pendemi. Selain itu Erick Thohir juga tudak aktif di Yayasan kemanusiaan Adaro jadi ini juga menunjukkan jauh sekali hubungan Erick Thohir dengan bisnis PCR.

Sesungguhnya sangat disayangkan para oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab ini bicara minim data dan bahkan bermain dalam “framings” berita untuk membunuh karakter menteri tokoh masa depan seperti Erick Thohir ini.

Mereka yang mengaku aktifis tetapi selalu bermain dlm politik praktis dan mengabaikan politik etis tanpa memikirkan akibat yang ditimbulkan. Bahkan sekelas media mainstream masih menulis berdasarkan asumsi terutama soal keterlibatan yayasan kemanusiaan Adaro!(*)

Latest News

BSMR Gelar Jakarta Risk Management Convention 2026: Siapkan Ketahanan Industri Perbankan Hadapi Era AI, Bullion Banking dan Ancaman Siber

Jakarta, 10 Agustus 2026 – Ketidakpastian ekonomi global yang belum mereda memaksa industri perbankan memasuki fase baru pengelolaan risiko....

More Articles Like This