Oleh : Edhy Aruman
24 Mei 2022 pagi. Awalnya Angeli Rose Gomez akan melewatkan acara kenaikan kelas kedua putranya (kelas dua dan tiga SD). Itu karena dia harus bekerja sebagai pengawas pertanian dan tidak ingin datang dengan pakaian yang berdebu.
Namun, anak-anaknya bersikeras agar ia datang untuk berfoto.
Gomez akhirnya mengalah. Dia bekerja sebentar, lalu berkendara sejauh 40 mil ke Uvalde untuk melihat mereka menerima sertifikat. Setelah berfoto dengan bangga, ia kembali ke ladang untuk bekerja-.
Hanya sepuluh menit setelah sampai kembali di tempat kerja, Gomez menerima telepon dari ibunya yang mengabarkan ada penembakan di sekolah.
Tanpa mempedulikan pakaian kerjanya yang kotor atau tugas yang belum selesai, ia kebut mobilnya. Tujuannya satu: menyelamatkan anak-anaknya.
Sesampainya di SD Robb, Gomez mendapati situasi yang kacau. Mobilnya langsung dikepung oleh U.S. Marshals bersenjata lengkap yang memerintahkannya memindahkan mobil.
Di kejauhan, ia melihat kerumunan orang tua yang histeris memohon kepada polisi untuk bertindak. Namun para petugas hanya berjaga di luar pagar sementara penembak masih aktif di dalam.
Gomez bertanya, “Apakah ada yang masuk? Anak-anak saya ada di dalam.”
Marshals tidak menjawab dan malah mengancam akan menangkapnya karena tidak kooperatif. Gomez melihat orang tua lain ditindak keras polisi. Seorang ayah dijatuhkan ke tanah, dan yang lain disemprot merica karena mencoba masuk.
Marah melihat ketidakbecusan aparat, Gomez berteriak, “Jika kalian tidak mau masuk ke sana, saya yang akan masuk!”
Marshals langsung memborgol kedua tangannya. Gomez merasakan ironi yang mengerikan: ia, seorang ibu tak bersenjata, ditangkap dan dipaksa tunduk oleh polisi bersenjata lengkap.
Sementara pembunuh anak-anak masih bebas berkeliaran di dalam sekolah.
Sambil mendengar suara tembakan dan jeritan orang tua lain, Gomez memohon agar dilepaskan demi menyelamatkan anak-anaknya.
Sadar perlawanannya, ia mengubah strategi. Ia menenangkan diri dan meyakinkan seorang petugas polisi lokal Uvalde (yang ia kenal) untuk melepas borgolnya dengan janji akan bersikap tenang-.
Begitu borgol terlepas, Gomez lari menjauh dari petugas, melompati pagar rantai sekolah, dan berlari menuju gedung kelas. Polisi mengejarnya, tetapi Gomez berlari lebih cepat.
Dalam gedung, Gomez berlari ke kelas putra sulungnya. Ia memberi tahu guru anaknya bahwa polisi ada di belakangnya dan mereka masih punya waktu untuk lari. Ia tidak sempat memeluk putra sulungnya lama-lama karena harus segera menyelamatkan adiknya.
Gomez berlari menuju kelas putra bungsunya. Ia mendengar suara tembakan dan jeritan anak-anak memanggil ibu mereka. Polisi berhasil mengejarnya tepat saat ia sampai di kelas putranya.
Saat petugas mencoba menyeretnya keluar, Gomez berteriak, “Kalau begitu, berikan saya rompi (anti peluru)! Saya tidak akan pergi sampai kalian mengevakuasi sekolah ini.”
Melihat keributan itu, guru di kelas tersebut membuka pintu. Putra bungsunya langsung berlari keluar sambil menangis memanggil, “Ibu!” Gomez meraih tangan anaknya dan mereka berlari bersama menuju tempat parkir yang lebih aman, tempat putra sulungnya sudah menunggu.
Di tempat parkir, dengan napas terengah-engah dan keringat bercucuran, Gomez menyaksikan kedua putranya berpelukan sambil menangis. Putra sulungnya berkata, “Aku sangat senang kamu baik-baik saja.” Adiknya menjawab, “Aku sangat khawatir kamu tidak selamat.”
Momen ini menjadi bukti kekuatan tekad seorang ibu yang menolak kepatuhan demi nyawa anak-anaknya.
Setelah kejadian itu, Gomez awalnya dilarang berbicara kepada media oleh polisi lokal dengan ancaman akan dikenai tuduhan menghalangi keadilan karena ia sedang dalam masa percobaan (probation) untuk kasus lama. Namun, setelah seorang hakim memuji tindakannya dan mengurangi masa percobaannya, Gomez memberanikan diri untuk bersuara.
Gomez mengungkapkan bahwa ia dan anak-anaknya mengalami intimidasi dari kepolisian setempat setelah ia mulai berbicara tentang kegagalan polisi hari itu. Ia sering dikuntit oleh mobil patroli, hingga ia harus tinggal terpisah dari anak-anaknya demi keamanan mereka.
Meskipun demikian, Gomez terus melakukan protes dan menuntut pertanggungjawaban, menegaskan bahwa polisi lebih tertarik menghalangi orang tua masuk daripada menyelamatkan siswa-.
Dr. Sunita Sah menggunakan kisah ini sebagai contoh ekstrem dari “Superpower of Responsibility” (Kekuatan Tanggung Jawab). Ketika nyawa orang yang dicintai terancam, hambatan mental untuk menentang otoritas runtuh.
Gomez melakukan pembangkangan (defiance). Tapi itu dilakukan bukan sekadar tindakan pemberontakan, melainkan tindakan penyelamatan yang didorong oleh rasa tanggung jawab yang mendalam terhadap orang lain.
Suatu hari di tahun 2004, Donna Summers, asisten manajer McDonald’s, menerima telepon dari seseorang. Dia mengaku sebagai “Petugas Polisi Scott.” Penelpon menuduh karyawan muda bernama Louise Ogborn mencuri dompet.
Mengikuti perintah suara di telepon, Summers menahan Ogborn di kantor belakang. “Polisi” tersebut kemudian memerintahkan penggeledahan badan (strip search). Summers patuh.
Situasi memburuk ketika tunangan Summers, Walter Nix, dipanggil dan diperintahkan oleh penelpon untuk melakukan pelecehan seksual terhadap Ogborn selama berjam-jam. Mereka semua tertipu. Penelpon hanyalah seorang penjaga penjara yang iseng dari jarak jauh.
Dr. Sunita Sah menggambarkan Summers sebagai orang yang sulit untuk mengatakan “tidak” kepada seseorang yang terdengar memiliki otoritas.
Dr. Jeffrey Wigand adalah contoh seseorang yang menggunakan ketidaknyamanan batinnya untuk melakukan perlawanan.
Sehari-hari, Wigand adalah eksekutif di perusahaan tembakau Brown & Williamson.
Dia mempunyai harapan bisa membuat rokok yang lebih aman. Namun, ia menyadari perusahaan justru memanipulasi kadar nikotin dan menyembunyikan bahaya zat aditif karsinogenik,.
Merasa “kotor” dan bertentangan dengan nilai-nilainya sebagai ilmuwan kesehatan, Wigand menjadi whistleblower. Peraturan perusahaan melarang itu. Namun, dia melakukan pembangkangan dan tampil di acara 60 Minutes.
Dia mengungkap kebohongan industri tembakau, meski menghadapi ancaman pembunuhan dan hancurnya kehidupan pribadinya. Ia mengubah ketegangan batinnya menjadi aksi nyata demi kesehatan publik,.
Meski tampak berlawanan, tindakan Gomez, Summers dan Wigand memiliki kesamaan mendasar. Keduanya berada di bawah tekanan otoritas dan dituntut memenuhi unsur moral yang sama: kapasitas, pengetahuan, pemahaman, kebebasan, dan otorisasi.
Gomez menolak demi melindungi anak, Summers gagal karena pengetahuan dan pemahamannya dimanipulasi, Wigant menolak permainan kotor. Ketiganya sama-sama membangkang. Tiga-tiganya bertindak karena rasa tanggung jawab atas perannya masing-masing.(*)

