No menu items!

Jelang Kunjungan Ke AS, Presiden Prabowo Matangkan Strategi Ekonomi

Must Read

JAKARTA, DATACORE.ID – Presiden RI Prabowo Subianto menggelar pertemuan dengan sejumlah Menteri Kabinet Merah Putih. Pertemuan dilakukan menjelang kunjungan Presiden ke Amerika Serikat guna menyamakan posisi kebijakan serta mematangkan strategi negosiasi ekonomi. Dalam pertemuan  tersebut membahas  agenda ekonomi untuk memperkuat koordinasi kebijakan demi menjaga stabilitas dan kepastian ekonomi nasional di tengah dinamika global. Diplomasi ekonomi pun diarahkan untuk memberikan manfaat konkret bagi Indonesia, khususnya dalam meningkatkan produktivitas industri, memperluas akses pasar, hingga memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global. Pertemuan diadakan di kediaman pribadi Presiden, Hambalang, Bogor, (15/02).

“Pertemuan membicarakan terkait update perundingan Indonesia-Amerika dan disampaikan Bapak Presiden rencananya akan hadir di Amerika Serikat pada tanggal 19. Di sekitar tanggal tersebut, rencananya akan dilaksanakan penandatanganan Agreement on Reciprocal Trade (ART),” ujar Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto,dalam keterangan tertulis (16/02).

Haryo menambahkan, rangkaian kegiatan juga akan mencakup pertemuan bisnis dan investasi antara pelaku usaha Indonesia dan Amerika Serikat, sebagai bagian dari rangkaian acara Penandatanganan Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Presiden RI dengan Presiden AS.

Dalam pertemuan di Hambalang tersebut, Presiden menekankan pentingnya memastikan posisi Indonesia tetap kuat dan terukur menjelang sejumlah agenda internasional dalam waktu dekat, termasuk pertemuan dengan Amerika Serikat. Presiden juga mengarahkan agar setiap perundingan harus memperkuat industri nasional, meningkatkan produktivitas domestik, serta memperbesar kontribusi Indonesia dalam global supply chain. Termasuk  memastikan posisi tawar Indonesia tetap kuat dan tidak merugikan kepentingan nasional.

“Presiden turut mengingatkan agar setiap kebijakan ekonomi memberikan manfaat nyata dan dapat segera dirasakan masyarakat Indonesia. Fokus kebijakan tidak hanya pada kesepakatan formal, tetapi pada penciptaan lapangan kerja, peningkatan nilai tambah industri, dan dampak langsung terhadap kesejahteraan rakyat,” jelas Haryo.

Secara substansi,lanjut haryo, negosiasi tarif telah rampung dan kedua negara telah menyelesaikan proses harmonisasi bahasa hukum (legal drafting). Dalam kerangka kesepakatan tersebut, Indonesia berkomitmen membebaskan tarif bea masuk bagi sebagian besar produk asal Amerika Serikat. Sementara itu, Amerika Serikat menurunkan tarif resiprokal atas produk Indonesia dari 32% menjadi 19%, serta memberikan pengecualian tarif bagi sejumlah komoditas unggulan ekspor Indonesia, termasuk minyak kelapa sawit (CPO), kopi, dan kakao.

Selain agenda perdagangan, kunjungan Presiden RI Prabowo Subianto ke Amerika Serikat juga mencakup partisipasi dalam KTT Board of Peace atau Dewan Perdamaian Gaza pada 19 Februari 2026. Pemerintah memandang momentum ini sebagai langkah strategis untuk memperkuat diplomasi Indonesia di tingkat global sekaligus membuka peluang kerja sama baru.

Haryo optimistis,  Pemerintah terhadap hasil kesepakatan tersebut. Ia juga menambahkan bahwa Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto telah berangkat terlebih dahulu ke Amerika Serikat untuk melakukan persiapan dan menyambut kehadiran Presiden RI Prabowo Subianto.

“Hadirnya para menteri bidang ekonomi di Hambalang sebelum keberangkatan Presiden merupakan bentuk konsolidasi akhir agar posisi Indonesia solid dalam perundingan. Kita berharap akan ada kejutan-kejutan positif dari ART yang semakin menguntungkan Indonesia,” pungkas Jubir Haryo.

Hadir dalam pertemuan tersebut di antaranya yakni Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, serta Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani. (mar)

Latest News

BSMR Gelar Jakarta Risk Management Convention 2026: Siapkan Ketahanan Industri Perbankan Hadapi Era AI, Bullion Banking dan Ancaman Siber

Jakarta, 10 Agustus 2026 – Ketidakpastian ekonomi global yang belum mereda memaksa industri perbankan memasuki fase baru pengelolaan risiko....

More Articles Like This