Oleh : Edhy Aruman
Semalam, saya duduk bersama teman-teman dosen, menonton film Tuhan, Benarkah Kau Mendengarku?. Awalnya saya mengira ini hanya akan menjadi tontonan religius yang menguras emosi, tetapi ternyata pulang dari bioskop, yang tertinggal justru kegelisahan—dan juga perenungan, tentang satu hal yang sering kita anggap sepele: tabayyun.
Film ini mengajarkan bahwa tidak semua yang terdengar pantas langsung dipercaya. Ada kalanya informasi datang dengan potongan-potongan yang timpang, dibungkus emosi, lalu diwariskan dari satu mulut ke mulut lain tanpa pernah diuji kebenarannya.
Di situlah konflik tumbuh, prasangka mengeras, dan luka pelan-pelan menganga.
Sarah (diperankan oleh Revalina S Tamat – alumni LSPR) dan Annisa, dua perempuan yang semula berhadap-hadapan dalam luka dan kecurigaan, sebenarnya sama-sama korban dari cerita yang tidak pernah mereka duduki secara utuh.
Menariknya, konflik dalam film ini tidak berdiri sendiri. Ia tumbuh dalam sebuah kelompok kecil—pengajian—yang justru memperlihatkan bagaimana solidaritas bisa menjadi kekuatan sekaligus ujian. Dalam teori modal sosial Putnam, masyarakat yang terorganisir dengan jaringan, norma, dan kepercayaan dapat melahirkan kerja sama yang bermanfaat.
Di film ini, bentuknya sederhana: ibu-ibu pengajian, obrolan selepas doa, dan rasa saling memiliki. Namun ketika tabayyun absen, modal sosial itu berubah menjadi ruang gema, tempat asumsi berulang-ulang terdengar seperti kebenaran.
Saya merasa bagian paling menyentuh justru bukan pada konflik, melainkan pada akhir cerita. Seperti yang sejak awal saya duga, semua “menang”. Bukan karena luka hilang begitu saja, tetapi karena para tokohnya memilih berhenti saling menuduh dan mulai saling memahami.
Sarah dan Annisa, yang sebelumnya berseteru, akhirnya berdiri berdampingan, berkolaborasi mengelola bisnis busana Arafah. Kematian Satrio—yang terjadi dalam sujud, saat menjadi imam bagi Sarah, Annisa, dan Laila—seakan menjadi jeda sunyi yang memaksa semua tokoh menunduk, bukan hanya secara fisik, tetapi juga batin.
Di titik itulah tabayyun terasa sangat manusiawi. Ia bukan sekadar prinsip moral, melainkan proses batin: menahan diri dari menghakimi, memberi ruang pada penjelasan, dan berani mengakui bahwa kita mungkin tidak tahu segalanya. Film ini mengingatkan bahwa banyak konflik hidup tidak membesar karena niat jahat, melainkan karena kesimpulan yang terlalu cepat.
Sebagai penonton—dan mungkin juga sebagai akademisi—saya belajar bahwa tabayyun bukan hanya relevan dalam ruang keagamaan, tetapi juga dalam relasi sosial, keluarga, bahkan komunitas profesional.
Kita hidup di zaman ketika informasi berlari lebih cepat daripada empati. Maka tabayyun adalah upaya sadar untuk memperlambat langkah, mendengar lebih utuh, dan melihat manusia di balik cerita.
Tuhan, Benarkah Kau Mendengarku? seolah berbisik pelan: Tuhan mungkin mendengar doa-doa yang tak terucap, tetapi manusia perlu belajar mendengar satu sama lain. Sebab sering kali, yang kita butuhkan bukan jawaban dari langit, melainkan keberanian untuk memastikan kebenaran sebelum melukai, dan kerendahan hati untuk memahami sebelum menghakimi.(*)

