No menu items!

Penantang

Must Read

Oleh : Edhy Aruman

Mihalis “Mike” Lazaridis adalah sosok jenius di balik lahirnya BlackBerry. Pengusaha Kanada kelahiran Istanbul, 14 Maret 1961, ini mendirikan Research In Motion (RIM) dan membawa perangkat genggam nirkabel itu menjadi simbol produktivitas global.

Ia bukan hanya pebisnis, tetapi juga akademisi—pernah menjabat sebagai rektor University of Waterloo dan dianugerahi Order of Canada.

Namun, di balik kecemerlangannya, tersimpan ironi besar.

Lazaridis sangat menguasai aspek teknis dari ciptaannya. Dan justru karena itulah ia terlalu yakin pada batasan-batasan yang ia pahami sejak awal. Ia percaya penuh pada asumsi lamanya, tanpa cukup keberanian untuk mengujinya kembali ketika dunia berubah.

Pada musim panas 2009, BlackBerry menguasai hampir setengah pasar ponsel pintar di Amerika Serikat. Lima tahun kemudian, pangsa itu runtuh hingga tak mencapai satu persen. Kejatuhan ini bukan karena kurangnya kecerdasan, melainkan karena kelebihan kepercayaan diri.

Adam Grant, dalam bukunya Think Again: The Power of Knowing What You Don’t Know, menyebut Lazaridis terperangkap dalam overconfidence cycle. Kesuksesan masa lalu membuatnya terlalu yakin pada penilaiannya sendiri. Rasa bangga berubah menjadi keyakinan kaku — bukan lagi keraguan sehat.

Ia berhenti bersikap sebagai ilmuwan yang menguji hipotesis, dan beralih menjadi “jaksa” yang menyerang kelemahan iPhone, sekaligus “pengkhotbah” yang memuja keunggulan BlackBerry. Ia tidak lagi membuka ruang untuk kemungkinan bahwa dunia bisa menginginkan sesuatu yang berbeda.

Bias konfirmasi pun bekerja. Lazaridis hanya mendengarkan suara pengguna setia yang mencintai keyboard fisik, sambil menutup mata terhadap miliaran calon pengguna yang terpikat oleh layar sentuh. Ia melihat apa yang ingin ia lihat, dan mengabaikan sisanya.

Dia hanya melihat data yang mendukung pendapatnya dan bias desirabilitas. Ia hanya mendengarkan umpan balik dari pengguna setia BlackBerry yang menyukai keyboard fisik, dan mengabaikan daya tarik layar sentuh bagi miliaran pengguna potensial lainnya.

Kesalahan paling ikonik adalah keengganannya meninggalkan keyboard fisik. Saat iPhone hadir pada 2007, ia meremehkannya. Baginya, ponsel adalah alat email dan telepon — bukan komputer saku penuh aplikasi hiburan.

Dalam rapat dewan 2012, ia bahkan berkata sambil menunjuk ponsel layar sentuh, “Saya tidak mengerti ini… Keyboard adalah alasan mereka membeli BlackBerry.”

Ia bertindak seperti politisi yang hanya menjaga basis pemilih lama — jutaan pengguna bisnis — dan lupa menatap pasar masa depan yang jauh lebih besar.

Sejak 1997, para insinyurnya telah mengusulkan penambahan browser internet. Lazaridis menolak dan meminta fokus pada email. Bertahun-tahun kemudian, ia masih percaya browser kuat hanya akan menguras baterai dan bandwidth. Ia tidak mau menguji apakah asumsi itu masih relevan di dunia yang telah berubah.

Pada 2010, ide pesan teks terenkripsi lintas platform — mirip WhatsApp — muncul dari internal perusahaan. Lazaridis ragu. Ia takut hal itu justru membuat BlackBerry kehilangan keunikan. Keraguan itu membuka jalan bagi pihak lain. WhatsApp kemudian tumbuh dan diakuisisi dengan nilai 19 miliar dolar AS.

Grant mengibaratkan situasi ini seperti petugas pemadam kebakaran yang tewas karena enggan menjatuhkan peralatan berat saat melarikan diri dari api. Bagi Lazaridis, melepaskan keyboard dan model bisnis BlackBerry berarti kehilangan bagian dari identitas dirinya.

Ia melihat dirinya sebagai pembuat alat kerja yang efisien, bukan pencipta hiburan. Identitas ini membuatnya buta terhadap perubahan kebutuhan manusia. Ketika keyakinan menyatu dengan jati diri, mempertanyakan ulang terasa seperti kehilangan diri sendiri.

Hal ini sangat kontras dengan Apple. Kebangkitan Apple justru terjadi karena orang-orang di sekitar Steve Jobs mampu mendorongnya untuk berpikir ulang. Jobs awalnya membenci ide ponsel dan bersumpah tak akan membuatnya. Namun, timnya berhasil mengajak ia meragukan keyakinannya sendiri — dan membayangkan iPod yang bisa menelepon.

Di BlackBerry, budaya rethinking tidak tumbuh. Pada 2011, seorang eksekutif menulis surat terbuka kepada Lazaridis, menyatakan bahwa perusahaan telah tertinggal tiga hingga empat tahun karena menertawakan gagasan “komputer di dalam telepon”.

Kesimpulannya sederhana namun pahit: kegagalan BlackBerry bukan karena pemimpinnya kurang cerdas, melainkan karena kurangnya kerendahan hati intelektual. Lazaridis terlalu pintar dan terlalu sukses hingga gagal melihat apa yang belum ia ketahui.

Ia berpegang pada asumsi lama—keyboard fisik, baterai awet, efisiensi bandwidth—di dunia yang telah beralih ke layar sentuh, aplikasi, dan internet penuh. Kecerdasannya tidak menjadi penawar, melainkan kutukan yang menghalanginya untuk berpikir ulang.

Kisah BlackBerry mengingatkan kita bahwa di dunia yang bergerak cepat, kemampuan terpenting bukanlah selalu menjadi yang paling pintar — melainkan berani meragukan diri sendiri, sebelum dunia memaksa kita melakukannya.

Pemimpin butuh “Jaringan Penantang” (Challenge Network), bukan hanya pendukung yang setuju saja.(*)

RUJUKAN

Grant, A. (2021). Think again: The power of knowing what you don’t know. Viking.

Latest News

BSMR Gelar Jakarta Risk Management Convention 2026: Siapkan Ketahanan Industri Perbankan Hadapi Era AI, Bullion Banking dan Ancaman Siber

Jakarta, 10 Agustus 2026 – Ketidakpastian ekonomi global yang belum mereda memaksa industri perbankan memasuki fase baru pengelolaan risiko....

More Articles Like This